Makassar, sehatnews — Cuaca belakangan ini makin tak menentu. Pagi bisa panas menyengat, sore mendadak hujan deras, bahkan malam berangin.
Peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan — yang dikenal sebagai musim pancaroba — kerap menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.
Untuk memahami bagaimana menjaga tubuh tetap bugar di tengah perubahan cuaca ekstrem ini, redaksi berbincang dengan dr. Andi Batari Desiani, dokter umum yang bertugas di Health & Nutrition Clinic Tamalanrea, Makassar.
Dalam wawancara khusus ini, dr. Tari mengungkap beragam tips dan penjelasan ilmiah seputar kesehatan di masa pancaroba — mulai dari penyebab penurunan imun, jenis penyakit yang sering muncul, hingga cara menjaga anak dan lansia tetap sehat.
Perubahan Cuaca, Tantangan bagi Tubuh
Menurut dr. Tari, pancaroba menyebabkan tubuh bekerja ekstra keras menyesuaikan diri.
“Saat suhu, kelembapan, dan tekanan udara berubah-ubah, tubuh perlu waktu untuk beradaptasi. Proses itu bisa membuat sistem imun menurun sementara, sehingga kita lebih mudah terserang penyakit,” jelasnya.
Selain itu, fluktuasi suhu juga memengaruhi kestabilan hormon dan metabolisme. Akibatnya, seseorang lebih mudah merasa lelah, mengantuk, atau kurang fokus.
Penyakit yang Umum Muncul
dr. Tari menyebut ada sejumlah penyakit yang sering muncul pada masa pancaroba.
“Yang paling sering adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) seperti flu, batuk, dan pilek,” ujarnya.
“Selain itu, juga banyak kasus alergi, asma, diare, dan demam berdarah dengue (DBD),” jelas alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) itu.
Menurutnya, perubahan cuaca dan kelembapan udara membuat virus serta bakteri berkembang lebih cepat.
“Khusus DBD, meningkatnya curah hujan menyebabkan genangan air yang menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak,” tambahnya.
Siapa yang Paling Rentan?
Dalam penjelasannya, dr. Tari menegaskan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan adaptasi yang sama terhadap perubahan cuaca.
“Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi,” katanya.
Sistem kekebalan tubuh mereka, lanjutnya, cenderung lebih lemah. Anak-anak masih dalam tahap perkembangan imun, sementara pada lansia, kemampuan pertahanan tubuh sudah menurun.
“Karena itu, kelompok ini harus lebih diperhatikan, baik dari segi asupan gizi maupun kebersihan lingkungan,” ujarnya.
Nutrisi, Istirahat, dan Hidrasi adalah Kunci
Bicara soal pencegahan, dr. Tari menekankan pentingnya pola hidup sehat yang konsisten.
“Perbanyak makan sayur dan buah, terutama yang kaya vitamin C dan antioksidan seperti jeruk, jambu biji, atau pepaya. Jangan lupa konsumsi protein dari ikan, telur, atau tempe untuk menjaga daya tahan tubuh,” katanya.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya tidur cukup minimal 7–8 jam per malam.
“Kurang tidur bisa menurunkan imunitas. Begitu juga stres. Jadi selain makan sehat, kita juga perlu menjaga suasana hati agar tidak mudah sakit,” kata dr Tari yang merupakan lulusan SMA Negeri 2 Makassar.
Minum air putih, lanjutnya, jangan diabaikan. “Dehidrasi ringan saja sudah bisa memengaruhi kerja sistem imun. Jadi usahakan minum minimal dua liter air sehari, apalagi kalau cuaca panas,” saran dr. Tari.
Perlukah Vitamin Tambahan?
Menurut dr. Tari, suplemen vitamin bukan keharusan, tetapi bisa menjadi pilihan bagi mereka yang memiliki aktivitas tinggi atau sering kelelahan.
“Kalau sudah makan bergizi dan istirahat cukup, tubuh sebenarnya sudah mendapat nutrisi yang dibutuhkan. Namun, vitamin C, D, zinc, atau B kompleks bisa membantu bagi yang sedang pemulihan atau banyak beraktivitas di luar ruangan,” katanya.
Kebersihan Lingkungan
Selain itu, salah satu penekanan utama dr. Tari adalah menjaga kebersihan lingkungan.
“Penyakit seperti DBD dan leptospirosis sering meningkat saat pancaroba karena banyak genangan air dan sanitasi yang kurang baik,” ujarnya.
Ia menganjurkan masyarakat untuk menerapkan gerakan 3M — menguras, menutup, dan mengubur tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
“Jangan biarkan air tergenang di pot bunga, ember, atau kaleng bekas. Itu bisa jadi tempat bertelur nyamuk,” tegasnya.
Untuk masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, dr. Tari memberikan beberapa tips praktis.
“Selalu sedia payung atau jas hujan, gunakan pakaian yang sesuai cuaca, dan segera mandi serta ganti baju setelah kehujanan,” sarannya.
Ia juga menambahkan pentingnya mencuci tangan dan menggunakan lotion anti-nyamuk, terutama bagi yang sering berada di area terbuka.
Kesehatan Mental juga Penting
Tidak hanya fisik, dr. Tari menilai aspek mental juga berperan penting dalam menjaga kesehatan di musim pancaroba.
“Stres dan kurang tidur membuat hormon kortisol meningkat, yang bisa menurunkan sistem imun. Jadi jangan lupa relaksasi, tertawa, dan bersosialisasi,” ucapnya.
Menurutnya, tubuh yang bahagia cenderung lebih tahan terhadap penyakit. “Kadang yang dibutuhkan bukan hanya vitamin, tapi juga ketenangan pikiran,” tambahnya sambil tersenyum.
dr. Tari pun menyampaikan pesan menenangkan untuk masyarakat.
“Cuaca memang tak menentu, tapi itu hal alami. Hadapi pancaroba dengan kesiapan, bukan kekhawatiran,” ujarnya.
“Kalau kita bisa menjaga pola hidup sehat, makan bergizi, cukup istirahat, dan tetap bahagia, maka tubuh akan mampu beradaptasi dengan baik,” pungkas dokter cantik ini menutup sesi wawancara. (*)











