Targetkan Setiap Daerah Punya Dokter Intervensi pada 2027
Jakarta, sehatnews — Di tengah meningkatnya beban penyakit jantung di Indonesia, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan peran strategis RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita sebagai pusat penggerak layanan kardiovaskular nasional.
Arahan itu disampaikan dalam pembukaan Indonesia International Cardiovascular Summit (IICS) 2025 di Jakarta, Minggu (23/11)
Menkes menyoroti penyakit jantung sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk Indonesia, sehingga diperlukan transformasi layanan dari hulu ke hilir.
Ia meminta RSJPD Harapan Kita mengawal tindak lanjut Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau lebih dari 59 juta penduduk, dengan temuan awal menunjukkan tingginya kasus hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi.
Tak hanya itu, RSJPD Harapan Kita juga diminta menyusun standar nasional tata laksana kardiovaskular serta mempercepat optimalisasi 119 cath lab yang tersebar di berbagai daerah—di mana sekitar 40% di antaranya belum beroperasi maksimal.
Menkes menargetkan pada 2027 setiap kabupaten/kota memiliki minimal satu dokter intervensi (PCI), dan seluruh provinsi mampu melakukan bedah jantung terbuka.
Budi juga menekankan pentingnya inovasi. Ia mendorong RSJPD Harapan Kita menjadi pusat riset dan pengembangan teknologi kardiovaskular mutakhir, termasuk kolaborasi tingkat internasional.
“Harapan Kita harus menjadi pusat rujukan nasional sekaligus motor percepatan inovasi. Setelah fasilitas dasar dan intervensi kita penuhi, tahap berikutnya adalah menghadirkan teknologi-teknologi mutakhir agar pelayanan jantung Indonesia terus maju,” ujar Menkes.
Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, dr. dr. Iwan Dakota, menegaskan bahwa pihaknya terus memperkuat layanan unggulan seperti bedah jantung minimal invasif, intervensi elektrofisiologi, dan terapi lanjutan untuk kasus kompleks, termasuk pendampingan jejaring kardiovaskular di berbagai daerah. (*)











