Jakarta, sehatnews — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) resmi meluncurkan program “Improved Access to Eye Health in Indonesia dan Vision Screening Event” sebagai upaya memperluas akses layanan kesehatan mata serta menekan angka gangguan penglihatan di Tanah Air.
Kegiatan tersebut digelar di Jakarta, Senin (2/2/2026), sebagai bagian dari komitmen pemerintah meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok anak dan usia produktif.
Data Kemenkes menunjukkan sekitar 3,6 juta anak Indonesia masih mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi dengan penggunaan kacamata. Kondisi ini dinilai berpotensi menghambat tumbuh kembang, prestasi belajar, serta kualitas hidup anak.
Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilakukan secara masif dan terintegrasi.
“Sepanjang 2025, kami telah melakukan skrining kesehatan mata terhadap sekitar 55 juta penduduk usia di atas tujuh tahun, dan sekitar 17 persen di antaranya terdeteksi mengalami gangguan penglihatan,” ujar Nadia.
Ia menambahkan, pada tahun 2026 Kemenkes menargetkan skrining kesehatan mata terhadap sekitar 140 juta masyarakat, mulai dari bayi hingga lanjut usia, melalui Program CKG.
“Target ini menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih sehat dan produktif,” katanya.
Penguatan layanan kesehatan mata di Indonesia juga mendapat dukungan dari World Health Organization (WHO) melalui inisiatif global SPECS 2030, yang bertujuan mengeliminasi gangguan penglihatan yang dapat dicegah maupun dikoreksi.
Perwakilan WHO Indonesia, Fransiska, menyampaikan apresiasi atas komitmen Pemerintah Indonesia yang telah bergabung dalam kerangka SPECS sejak Oktober 2025.
“Indonesia menunjukkan kepemimpinan yang kuat dalam upaya pencegahan gangguan penglihatan di kawasan,” ujarnya.
Dukungan serupa disampaikan OneSight EssilorLuxottica Foundation. Perwakilan lembaga tersebut, Patricia Koh, menyatakan kesiapan pihaknya bermitra dengan Kemenkes dalam memperluas layanan kesehatan mata, khususnya melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.
“Kami berkomitmen mendukung pelatihan perawat dan tenaga kesehatan agar mampu melakukan pemeriksaan dasar penglihatan di layanan primer,” jelas Patricia.
Sebagai langkah konkret, program ini juga akan menjangkau wilayah terpencil melalui penyediaan patient center di Kepulauan Seribu, guna memastikan layanan kesehatan mata yang inklusif dan merata.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Kemenkes berharap upaya deteksi dini dan penanganan gangguan penglihatan dapat semakin optimal, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia secara berkelanjutan. (*)










