Jakarta, sehatnews — Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa pembangunan sistem kesehatan yang mandiri menjadi salah satu prasyarat utama agar Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).
Pernyataan tersebut disampaikan Budi dalam High Level Roundtable Discussion: Building Regional and Global Health Resilience in ASEAN di Kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa setiap negara akan memprioritaskan kebutuhan rakyatnya sendiri ketika terjadi krisis global. Karena itu, Indonesia harus memiliki kemampuan memproduksi sendiri berbagai kebutuhan strategis di sektor kesehatan.
“Belajar dari pandemi COVID-19, saat krisis melanda, setiap negara pasti akan menyelamatkan rakyatnya sendiri terlebih dahulu. Untuk itu, negara sebesar Indonesia dengan 280 juta penduduk wajib memiliki kedaulatan kesehatan sendiri, mulai dari vaksin hingga obat-obatan. Kita tidak boleh lagi hanya bergantung pada belas kasihan negara lain,” ujar Budi.
Ketergantungan Impor Mulai Berkurang
Budi mengungkapkan pemerintah terus memperkuat industri kesehatan nasional dengan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Jika sebelumnya lebih dari 90 persen kebutuhan produk kesehatan dipenuhi dari luar negeri, kini angka tersebut telah ditekan menjadi sekitar 70–80 persen.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Kementerian Kesehatan memfasilitasi produksi 35 jenis bahan baku obat (Active Pharmaceutical Ingredients/API) di dalam negeri agar rantai pasok industri farmasi dapat terbangun secara utuh, mulai dari hulu hingga hilir.
“Kita ingin belanja kesehatan yang tumbuh 12–13 persen setiap tahun tidak mengalir ke luar negeri, tetapi berputar di dalam negeri sehingga menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan produk domestik bruto,” katanya.
Ia mencontohkan pembangunan pabrik pengolahan plasma darah di Karawang yang ditargetkan mulai berproduksi pada awal 2027. Fasilitas tersebut diharapkan mampu menghasilkan produk seperti Albumin dan Immunoglobulin yang selama ini masih bergantung pada impor.
Indonesia Bidik Jadi Hub Riset ASEAN
Selain memperkuat kapasitas produksi, pemerintah juga mendorong Indonesia menjadi pusat riset kesehatan di kawasan ASEAN.
Saat ini Indonesia telah memiliki tiga perusahaan produsen vaksin dengan kapasitas produksi yang meningkat hingga 60 persen. Pemerintah juga memfasilitasi berbagai uji klinis vaksin, termasuk vaksin tuberkulosis (TBC), malaria, dengue, dan PCV13.
Di sisi lain, tenaga kesehatan dan peneliti Indonesia juga dikirim mengikuti pelatihan biomanufaktur serta pengembangan teknologi mRNA di sejumlah lembaga internasional, termasuk Tsinghua University dan Leiden Biotech.
Kesehatan Dipandang sebagai Investasi Ekonomi
Dalam forum yang sama, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan penguatan sektor kesehatan merupakan bagian dari strategi mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 7–8 persen sebagaimana dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Luhut, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam tata kelola pemerintahan juga akan meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat ekosistem layanan kesehatan nasional.
“Kesehatan adalah kunci. Dengan bantuan teknologi berbasis AI, Indonesia akan menjadi lebih transparan dan efisien. Jika ekosistem kesehatan ini terbangun mandiri, kita sangat optimistis ekonomi kita tumbuh sesuai target,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, menilai kerja sama regional di ASEAN perlu terus diperkuat untuk membangun industri kesehatan yang lebih tangguh.
Dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 650 juta jiwa, ASEAN dinilai memiliki potensi besar membangun rantai pasok regional bagi industri vaksin dan produk kesehatan sehingga kawasan lebih siap menghadapi ancaman pandemi di masa mendatang.
Untuk mendukung agenda tersebut, Kementerian Kesehatan telah menyusun National Action Plan for Health Security (NAPHS) 2025–2029 yang didukung pendanaan Pandemic Fund guna memperkuat sistem deteksi dini dan respons cepat terhadap wabah.
Berdasarkan kajian bersama Bank Dunia, setiap investasi sebesar USD1 di sektor kesehatan diperkirakan menghasilkan dampak ekonomi hingga USD3.
Pemerintah juga menargetkan peningkatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun sebagai bagian dari strategi memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. (*)












