Influenza Meningkat, Kemenkes: Aktivitas Masih Rendah dan Terkendali

Tim Redaksi

Influenza

JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Namun, berdasarkan surveilans hingga minggu ke-38 tahun 2026, tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada pada kategori rendah (low) dan belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.

Laporan resmi Kemenkes periode 20–26 September 2026 menunjukkan positivity rate influenza meningkat menjadi 58 persen, dari 48 persen pada pekan sebelumnya. Meski demikian, indikator aktivitas influenza di tingkat puskesmas maupun rumah sakit masih berada pada kategori rendah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan peningkatan kasus tersebut perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kesiapsiagaan, bukan kepanikan.

“Memang ada kenaikan kasus influenza, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara. Tetapi berdasarkan data surveilans yang kita miliki, kondisinya masih dalam rentang medium. Karena itu, yang kita lakukan adalah meningkatkan surveilans dan kesiapsiagaan agar perkembangan kasus dapat terus dipantau,” ujar Budi.

Data Kemenkes menunjukkan pada minggu ke-38 proporsi kasus influenza meningkat, tetapi indikator klinis juga masih dalam kategori aktivitas rendah. Kasus influenza-like illness (ILI) dari total kunjungan puskesmas sentinel tercatat 0,51 persen, naik dari 0,40 persen pada pekan sebelumnya. Sementara kasus severe acute respiratory infection (SARI) dari total rawat inap rumah sakit sentinel meningkat menjadi 1,71 persen dari 1,22 persen.

H1N1pdm09 Masih Dominan

Hasil pemeriksaan spesimen menunjukkan Influenza A(H1N1)pdm09 masih menjadi tipe yang dominan. Pada pekan sebelumnya, dari 199 spesimen yang diperiksa, sebanyak 116 dinyatakan positif influenza, terdiri atas 105 kasus A(H1N1)pdm09, tujuh A(H3N2), dan empat Influenza B Victoria. Data pada beberapa pekan terakhir masih bersifat sementara dan dapat berubah.

Kemenkes juga terus memantau Influenza A(H3N2) subclade K yang belakangan ramai disebut masyarakat sebagai “superflu”.

Namun, istilah “superflu” bukan nomenklatur resmi yang digunakan WHO maupun CDC untuk menyebut subclade tersebut. Karena itu, perkembangan influenza perlu dibaca berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dan data surveilans.

Data Kemenkes hingga minggu ke-37 mencatat total 188 kasus subclade K sejak 2025, dengan 22 kasus di antaranya ditemukan sepanjang 2026. Kasus tahun 2026 tersebar di enam provinsi.

Menkes Budi menegaskan pemantauan terhadap subclade K tetap dilakukan sebagai bagian dari surveilans influenza nasional.

Oseltamivir Tidak untuk Semua Pasien

Di sisi pengobatan, Kemenkes mengingatkan bahwa sebagian besar kasus influenza dapat pulih dengan perawatan suportif dan tidak selalu membutuhkan rawat inap.

Penggunaan obat antivirus seperti oseltamivir juga tidak ditujukan untuk seluruh pasien influenza.

“Oseltamivir penggunaannya harus tepat. Berdasarkan masukan para ahli, obat ini sebaiknya digunakan secara terbatas pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang memang membutuhkan antivirus,” ujar Budi.

Menurut Kemenkes, penggunaan antivirus secara tidak tepat dan berlebihan dapat meningkatkan risiko resistansi. Karena itu, obat tersebut perlu diberikan berdasarkan indikasi medis.

“Kita tidak boleh menggunakan antivirus secara berlebihan karena ada risiko resistansi. Kalau resistansi terjadi, justru kita bisa kehilangan pilihan obat ketika menghadapi wabah yang lebih berat dan mengancam nyawa, seperti influenza H5Nx,” lanjutnya.

Surveilans Terus Diperkuat

Kemenkes saat ini menjalankan pemantauan influenza melalui jaringan sentinel yang mencakup 39 puskesmas, 35 rumah sakit, dan 14 balai kekarantinaan kesehatan di berbagai wilayah Indonesia. Sistem tersebut digunakan untuk memantau tren kasus, karakteristik virus, hingga tingkat keparahan penyakit.

Kemenkes juga telah menerbitkan surat edaran khusus mengenai penanggulangan Influenza A(H3N2) subclade K yang berlaku secara nasional.

Masyarakat diminta tetap waspada tanpa panik dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker ketika sakit atau berada di tempat ramai, menerapkan etika batuk dan bersin, serta segera mencari pertolongan medis apabila gejala memburuk.

Perhatian lebih perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti bayi dan anak kecil, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta karena memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi. Kenali gejalanya, cegah penularannya, dan segera periksa apabila kondisi memburuk. (*)

Jangan Lewatkan:

Bagikan: