Jakarta, sehatnews — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa keamanan pangan merupakan investasi strategis dalam membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Karena itu, pembudayaan konsumsi pangan yang aman dan bergizi di lingkungan sekolah terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
Komitmen tersebut ditunjukkan melalui penyelenggaraan Gebyar Sadar Pangan Aman (SAPA) Sekolah yang diikuti sekitar 1.150 peserta secara luring dan daring dari berbagai daerah di Indonesia, Senin (29/6/2026).
Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day/WFSD) 2026 dengan mengusung tema From Burden to Solutions – Safe Food Everywhere.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan keamanan pangan tidak hanya berfungsi mencegah penyakit, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan mampu bersaing di masa depan.
Menurutnya, sekolah merupakan lingkungan paling strategis untuk membentuk kebiasaan anak dalam memilih pangan yang aman dan bergizi sejak usia dini.
“Sekolah merupakan lingkungan strategis dalam membentuk kebiasaan konsumsi pangan yang aman dan bergizi. Dalam masa bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045, kita perlu memastikan setiap anak memperoleh pangan yang aman dikonsumsi dan bergizi,” ujar Taruna Ikrar.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan mengubah persoalan keamanan pangan menjadi solusi nyata melalui edukasi, perubahan perilaku, serta penguatan kerja sama lintas sektor.
BPOM mencatat tantangan keamanan pangan masih cukup besar. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), satu dari sepuluh penduduk dunia mengalami sakit akibat mengonsumsi pangan yang terkontaminasi, dengan sekitar 420 ribu kematian setiap tahun.
Di Indonesia sendiri diperkirakan terdapat 10 hingga 22 juta kasus diare setiap tahun akibat pangan yang tidak aman, dengan kerugian ekonomi mencapai Rp64,8 triliun hingga Rp226,3 triliun.
Selain itu, Indonesia juga menghadapi persoalan gizi. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada anak usia 5–12 tahun mencapai 19,7 persen.
Sementara data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat prevalensi diabetes pada anak mencapai dua kasus per 100 ribu penduduk.
Menurut Taruna, kondisi tersebut dipengaruhi tingginya konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), serta rendahnya aktivitas fisik anak.
Hingga saat ini, program pembudayaan keamanan pangan BPOM telah menjangkau sekitar 60.234 sekolah, atau sekitar 21,8 persen dari total 276.866 sekolah dan madrasah di Indonesia.
Karena itu, perluasan jangkauan program dinilai menjadi prioritas melalui sinergi dengan berbagai kementerian dan lembaga.
Sebagai bentuk penguatan kolaborasi, Kepala BPOM Taruna Ikrar bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menandatangani nota kesepahaman tentang pemberdayaan sumber daya manusia pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di bidang obat dan makanan.
Abdul Mu’ti mengatakan program SAPA sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam membangun budaya sekolah yang sehat sekaligus mendukung implementasi Program Sekolah Sehat dan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
“Program SAPA juga sejalan dengan upaya Kemendikdasmen membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman, sekaligus memperkuat Program Sekolah Sehat serta implementasi Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, BPOM juga meluncurkan empat inovasi strategis untuk memperkuat budaya keamanan pangan di sekolah dan masyarakat.
Keempatnya meliputi Pedoman Penyelenggaraan Sekolah yang Melaksanakan Pembudayaan Keamanan Pangan, Pedoman Edukasi Keamanan Pangan bagi penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Pedoman Program Sadar Pangan Aman Berbasis Budaya, serta Gerakan 1.000 Kader Pangan Aman yang menggunakan bahasa daerah sebagai media edukasi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi pendekatan berbasis budaya yang dikembangkan BPOM. Menurutnya, penggunaan bahasa daerah dan kearifan lokal akan membuat pesan keamanan pangan lebih mudah dipahami sekaligus menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat.
“Kebudayaan bukan hanya warisan, tetapi juga kekuatan sosial yang mampu menggerakkan perubahan perilaku masyarakat. Pendekatan budaya merupakan langkah strategis karena pesan keamanan pangan akan lebih mudah dipahami, diterima, dan dipraktikkan masyarakat,” ujarnya.
BPOM menegaskan bahwa keberhasilan membangun budaya pangan aman tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan guru, pengelola kantin, orang tua, serta masyarakat.
Melalui Gebyar SAPA Sekolah, BPOM berharap kolaborasi tersebut mampu memperluas budaya konsumsi pangan yang aman dan bergizi sehingga menjadi fondasi lahirnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berdaya saing, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045. (*)










