Gelombang Panas Ekstrem di Prancis Tewaskan 2.025 Orang dalam Sepekan, Rumah Sakit Kewalahan

Tim Redaksi

Gelombang Panas Ekstrem di Perancis

Paris, sehatnews – Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis sepanjang akhir Juni 2026 telah menyebabkan sedikitnya 2.025 kematian tambahan dalam kurun satu pekan, menjadikannya salah satu bencana iklim paling mematikan yang pernah dialami negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir.

Data awal yang dirilis otoritas kesehatan Prancis menunjukkan angka kematian pada periode 22–28 Juni 2026 meningkat sekitar 29,1 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa jumlah tersebut masih bersifat sementara dan kemungkinan akan terus bertambah seiring proses verifikasi data.

Menteri Kesehatan Prancis, Stéphanie Rist, mengatakan penghitungan saat ini belum sepenuhnya mencerminkan dampak sebenarnya dari gelombang panas tersebut.

“Penghitungan ini masih jauh dari lengkap,” ujarnya, seraya mengingatkan bahwa jumlah korban diperkirakan masih dapat meningkat.

Wilayah Paris dan kawasan Pays de la Loire menjadi daerah yang mengalami lonjakan kematian paling signifikan. Otoritas kesehatan juga mencatat peningkatan tajam jumlah kematian di rumah-rumah pribadi, panti jompo, dan rumah sakit selama periode tersebut.

Lebih Intens Dibanding Gelombang Panas 2003

Prancis pernah mengalami tragedi gelombang panas pada 2003 yang menewaskan sekitar 15.000 orang.

Namun, menurut Stéphanie Rist, karakteristik gelombang panas tahun ini berbeda karena intensitas suhu yang sangat tinggi terjadi lebih awal dan berlangsung selama sekitar 11 hari berturut-turut, dengan suhu di banyak wilayah melampaui 40 derajat Celsius.

Kondisi tersebut memicu lonjakan pasien di berbagai rumah sakit, terutama dengan keluhan dehidrasi, serangan jantung, gangguan fungsi ginjal, hingga penyakit yang dipicu paparan panas ekstrem.

Kepala Departemen Gawat Darurat Rumah Sakit Paris-Saclay, Nicolas Gonzales, mengatakan pasien yang datang berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia yang tinggal sendiri.

Kamar Jenazah Penuh

Lonjakan angka kematian juga memberikan tekanan besar terhadap layanan pemakaman. Di Paris, sejumlah kamar jenazah dilaporkan telah mencapai kapasitas maksimal sehingga kesulitan menerima jenazah baru sebelum proses pemakaman maupun kremasi dilakukan.

Berdasarkan data otoritas kesehatan, kematian di rumah meningkat hingga 91 persen dibandingkan pekan sebelumnya, sementara kematian di panti jompo naik 37 persen dan di rumah sakit hampir 20 persen.

Dampak Meluas ke Eropa

Gelombang panas tidak hanya melanda Prancis. Sejumlah negara Eropa juga mengalami suhu ekstrem. Di Swiss, suhu mencapai 38,8 derajat Celsius di Basel, sedangkan Jerman mencatat rekor baru 41,5 derajat Celsius di Möckern-Drewitz.

Cuaca ekstrem tersebut turut mengganggu infrastruktur. Sebagian ruas jalan tol di Jerman mengalami kerusakan akibat suhu tinggi, sementara operator kereta api mengimbau masyarakat menunda perjalanan yang tidak mendesak karena risiko gangguan operasional.

Para ahli iklim menilai kejadian ini menjadi pengingat bahwa gelombang panas ekstrem diperkirakan akan semakin sering terjadi seiring perubahan iklim global.

Karena itu, penguatan sistem peringatan dini, perlindungan kelompok rentan, serta strategi adaptasi terhadap suhu ekstrem dinilai semakin mendesak untuk mengurangi dampak kesehatan masyarakat. (*)

Jangan Lewatkan:

Bagikan: