Dinkes Bontang Libatkan Ayah sebagai Garda Terdepan Cegah Stuntin

Tim Redaksi

Dinkes Bontang Perluas Strategi Cegah Stunting, Ayah Kini Jadi Sasaran Edukasi

BONTANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang mulai mengubah pendekatan dalam upaya percepatan penurunan stunting. Jika selama ini intervensi lebih banyak menyasar ibu hamil dan balita, kini peran ayah dijadikan salah satu fokus utama karena dinilai memiliki pengaruh besar terhadap berbagai keputusan yang berkaitan dengan kesehatan keluarga.

Strategi tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dengan PT Kaltim Daya Mandiri (KDM) dalam kegiatan KDM Peduli Stunting 2026 bertema Peran Ayah untuk Generasi Bebas Stunting yang diikuti sekitar 100 ayah, suami ibu hamil, calon pengantin, dan kepala keluarga berisiko stunting di Aula Hotel Grand Equator, Sabtu (11/7/2026).

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bontang, Bambang Sri Mulyono, mengatakan keterlibatan ayah menjadi bagian penting dari strategi baru pemerintah daerah untuk mempercepat penurunan angka stunting.

Menurutnya, berbagai keputusan di dalam keluarga, mulai dari kebiasaan merokok, pemenuhan gizi, hingga pemanfaatan layanan kesehatan ibu dan anak, umumnya ditentukan oleh kepala keluarga. Karena itu, perubahan perilaku ayah dinilai akan memberikan dampak besar terhadap kualitas tumbuh kembang anak.

“Target penurunan stunting dari pemerintah daerah cukup besar. Karena itu intervensi tidak cukup hanya melalui pemberian makanan tambahan, tetapi juga perubahan perilaku seluruh anggota keluarga. Ayah memiliki peran besar dalam menentukan keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak,” ujarnya.

Bambang mengungkapkan prevalensi perokok di Kota Bontang masih berada di kisaran 18 persen. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan asap rokok dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi ibu hamil maupun anak.

Di sisi lain, Dinkes juga masih menemukan kasus stunting yang cukup tinggi di kawasan pesisir meski wilayah tersebut memiliki sumber protein ikan yang melimpah.

“Ini menunjukkan bahwa persoalan stunting bukan hanya soal ketersediaan pangan, tetapi juga pola asuh, pengetahuan gizi, dan perilaku hidup sehat di dalam keluarga,” katanya.

Pimpinan BLUD Puskesmas Bontang Utara II, dr. Dwiyanti, menjelaskan edukasi kepada ayah merupakan langkah untuk menyasar kelompok yang selama ini belum banyak dilibatkan dalam program pencegahan stunting.

Menurutnya, seorang ayah memiliki tanggung jawab mendukung istri menjalani pemeriksaan kehamilan, memastikan anak rutin ke posyandu dan memperoleh imunisasi, serta menciptakan lingkungan rumah yang bebas dari asap rokok.

“Ayah adalah pengambil keputusan dalam keluarga. Harapannya setelah mendapatkan edukasi ada perubahan perilaku, terutama bagi ayah yang merokok. Kalau ingin berhenti merokok, kami siap memfasilitasi melalui layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) di Puskesmas Bontang Utara II,” jelasnya.

Sebagai bagian dari intervensi tersebut, peserta juga mengikuti pemeriksaan menggunakan CO Analyzer untuk mengetahui tingkat paparan karbon monoksida akibat kebiasaan merokok. Dinas Kesehatan turut memperkenalkan layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) dan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai tindak lanjut bagi peserta yang ingin mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.

Komitmen menciptakan keluarga sehat juga diwujudkan melalui penandatanganan Komitmen Bersama Upaya Berhenti Merokok oleh seluruh peserta. Deklarasi tersebut menjadi simbol dukungan terhadap pengendalian konsumsi rokok sebagai bagian dari strategi pencegahan stunting.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai disiplin ilmu. Dokter spesialis paru dr. Ferryansyah menjelaskan dampak rokok terhadap kesehatan keluarga dan kaitannya dengan stunting. Dokter spesialis anak dr. Thoufik Hidayat memaparkan pentingnya pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, sementara Psikolog HIMPSI Kalimantan Timur Cabang Bontang, Trully Trisna Milasari, mengulas pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.

Manager SDM dan Umum PT Kaltim Daya Mandiri, Siswa Suyakti, mengatakan dunia usaha memiliki tanggung jawab mendukung program kesehatan masyarakat melalui kolaborasi yang berkelanjutan.

“Kami berharap kolaborasi seperti ini terus berlanjut karena pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, tenaga kesehatan, hingga keluarga,” ujarnya.

Salah seorang peserta, Choliq Hidayah, mengaku memperoleh banyak pemahaman baru mengenai pentingnya peran ayah dalam mencegah stunting. Ayah dari bayi berusia 10 bulan itu mengatakan dirinya kini semakin menyadari bahwa membangun lingkungan yang sehat merupakan bagian dari tanggung jawab seorang ayah.

“Saya bukan perokok aktif, tetapi sering menjadi perokok pasif ketika berada di luar rumah. Dari kegiatan ini saya jadi tahu bahwa peran ayah bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga memastikan anak tumbuh di lingkungan yang sehat, mendukung istri, dan rutin membawa anak ke layanan kesehatan. Ilmu yang saya dapat hari ini akan saya terapkan di rumah,” katanya. (*)

Jangan Lewatkan:

Bagikan: