Jakarta, sehatnews — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyambut 297 peserta Program Pemagangan Nasional Lulusan Perguruan Tinggi yang akan memperkuat lini pengawasan obat dan makanan di seluruh Indonesia.
Penyambutan tersebut digelar bersamaan dengan Kegiatan Terpadu bertema “Membangun Ekosistem Unggul untuk Pengawasan Obat dan Makanan yang Modern dan Andal Menuju Indonesia Emas 2045”, Kamis (27/11/2025).
Program Pemagangan Nasional merupakan inisiatif pemerintah untuk memberikan pengalaman kerja terstruktur bagi lulusan perguruan tinggi.
Para peserta akan ditempatkan di unit pusat maupun unit pelaksana teknis (UPT), guna mendukung kapasitas teknis, digital, dan operasional BPOM.
Dalam kegiatan ini, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyerahkan surat keputusan (SK) secara simbolis kepada perwakilan peserta magang, menandai dimulainya proses pembelajaran di lingkungan BPOM.
Salah satu peserta, Larasati Myra Assyifa dari Institut Pertanian Bogor, menyebut program ini sebagai kesempatan berharga untuk mengembangkan kompetensi dan memahami budaya kerja profesional.
Selain penyambutan peserta magang, BPOM juga menggelar tiga agenda strategis, yaitu Pengukuhan Forum Komunikasi dan Kolaborasi Analisis Kebijakan (FOKALIS) sebagai Komisariat Ikatan Nasional Analisis Kebijakan (INAKI), Workshop Pranata Komputer, serta Workshop Evaluasi Pendampingan Pengujian UPT BPOM. Seluruh kegiatan berlangsung secara hybrid di Auditorium Merah Putih BPOM.
Dalam arahannya, Taruna Ikrar menegaskan bahwa dinamika lingkungan strategis menuntut BPOM semakin adaptif dalam mengawasi obat dan makanan.
Ia menyebut target pertumbuhan ekonomi nasional 8% membutuhkan ekosistem usaha yang inovatif dan kompetitif, sehingga pengawasan yang modern, cepat, dan berkualitas menjadi tuntutan mutlak.
“Keputusan-keputusan yang kita ambil harus mencerminkan kepentingan banyak orang. SDM adalah faktor penentu kualitas pengawasan,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, FOKALIS resmi dikukuhkan sebagai Komisariat INAKI di lingkungan BPOM.
Ketua INAKI, Imam Gunarto, mengapresiasi peran analis kebijakan BPOM yang dinilai bekerja secara profesional dan memperoleh ruang kontribusi yang optimal. Kinerja BPOM, ujarnya, mencerminkan kualitas analisis kebijakan yang kuat dan konsisten.
Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), Muhammad Taufiq, turut mengapresiasi BPOM. Ia menilai pengukuhan FOKALIS sebagai Komisariat kedua setelah LAN menjadi pencapaian luar biasa dan menunjukkan keseriusan BPOM dalam pengembangan kompetensi SDM, terutama ASN.
Kepala BPOM juga membuka Workshop Pranata Komputer yang difokuskan pada penguatan kapasitas digital, serta Workshop Evaluasi Pendampingan Pengujian UPT BPOM yang bertujuan memastikan konsistensi mutu laboratorium—komponen penting dalam pengambilan keputusan berbasis data.
Acara dihadiri sekitar 200 peserta secara luring, termasuk jajaran BPOM, perwakilan JFAK Kementerian Kesehatan, Kemenpan RB, serta perwakilan Profesi Pranata Komputer Indonesia (PRAKOM ID).
Melalui rangkaian agenda ini, BPOM menegaskan komitmennya membangun ekosistem pengawasan obat dan makanan yang adaptif, modern, dan kolaboratif.
Penguatan SDM, peningkatan mutu laboratorium, dan percepatan transformasi digital menjadi fondasi penting dalam mendukung perlindungan kesehatan masyarakat serta percepatan pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. (*)











