7–9 November di Makassar, RSUD Daya dan RSGM Unhas Gelar Operasi Celah Bibir-Langit Gratis

Tim Redaksi

Operasi Bibir Sumbing

MAKASSAR — Kabar baik bagi masyarakat yang memiliki anggota keluarga dengan celah bibir dan langit-langit. RSUD Daya Kota Makassar bersama Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Hasanuddin (RSGM Unhas) akan menggelar operasi celah bibir dan langit-langit secara gratis pada 7–9 November 2026.

Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Makassar sekaligus bentuk pengabdian kepada masyarakat, khususnya bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi dan membutuhkan akses layanan operasi.

Kegiatan bertajuk RS Daya Mengabdi ini didukung Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (FKG Unhas), Yayasan Celebes Cleft Center (CCC), dan Smile Train Indonesia (STI).

Direktur RSGM Unhas, Dr. drg. Andi Tajrin, M.Kes., Sp.B.M.M., Subsp.C.O.M(K), mengatakan kolaborasi tersebut mempertemukan berbagai pihak dengan kapasitas berbeda untuk memperluas akses pelayanan bagi pasien celah bibir dan langit-langit.

“Kolaborasi ini mempertemukan kekuatan rumah sakit pemerintah daerah, rumah sakit pendidikan perguruan tinggi, institusi pendidikan kedokteran gigi, serta lembaga yang memiliki pengalaman dan komitmen dalam pelayanan pasien celah bibir dan langit-langit,” ujar Tajrin, Rabu (7/10/2026).

Terbuka untuk Pasien Lama

Salah satu hal yang ditekankan dalam program ini adalah kesempatan bagi pasien lama untuk kembali mendapatkan evaluasi dan penanganan.

Artinya, layanan tidak hanya diperuntukkan bagi bayi atau pasien yang belum pernah menjalani operasi. Anak, remaja, hingga orang dewasa yang pernah menjalani operasi tetapi masih memiliki kelainan bentuk, gangguan fungsi, jaringan parut, deformitas, maupun membutuhkan tindakan koreksi juga dapat mendaftar.

Pasien dengan celah bibir dan/atau celah langit-langit akan terlebih dahulu menjalani skrining dan pemeriksaan oleh tim medis.

Jenis serta waktu tindakan akan ditentukan berdasarkan usia, berat badan, kondisi kesehatan, jenis kelainan, riwayat operasi, keselamatan pasien, serta indikasi medis.

Karena itu, pendaftaran tidak otomatis berarti pasien langsung menjalani operasi. Keputusan tindakan tetap ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan pertimbangan medis.

Bayi hingga Orang Dewasa Bisa Mendaftar

Program ini terbuka bagi masyarakat dengan kelainan celah bibir dan/atau celah langit-langit yang membutuhkan akses penanganan.

Calon pasien antara lain bayi minimal berusia tiga bulan dengan celah bibir yang memenuhi persyaratan kesehatan untuk operasi, anak maupun orang dewasa yang belum pernah menjalani operasi, serta pasien dengan celah langit-langit atau kombinasi celah bibir dan langit-langit sesuai usia dan indikasi medis.

Pasien yang sebelumnya telah menjalani operasi namun hasilnya belum optimal juga dapat mengikuti evaluasi.

“Pesan ini penting agar masyarakat tidak beranggapan bahwa kesempatan pelayanan hanya diberikan kepada bayi atau pasien baru,” kata Tajrin.

“Anak, remaja, maupun orang dewasa dengan riwayat celah bibir dan langit-langit tetap dapat datang untuk mendapatkan evaluasi,” lanjutnya.

Didukung Tim Spesialis dan Subspesialis

Menurut Tajrin, keterlibatan RSGM Unhas menjadi salah satu kekuatan dalam program tersebut. Sebagai rumah sakit pendidikan, RSGM Unhas memiliki layanan Bedah Mulut dan Maksilofasial yang didukung tenaga spesialis dan subspesialis.

Dukungan tersebut mencakup proses skrining dan seleksi pasien, perencanaan tindakan, pelaksanaan operasi sesuai indikasi, hingga evaluasi dan tindak lanjut pasien.

Sementara keterlibatan FKG Unhas menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat sekaligus integrasi antara pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Bukan Sekadar Persoalan Penampilan

Tajrin mengingatkan bahwa celah bibir dan langit-langit bukan semata-mata persoalan penampilan.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan makan dan berbicara, kesehatan gigi dan mulut, pertumbuhan, serta perkembangan psikologis dan sosial pasien.

Sebagian pasien juga menghadapi rasa malu, kurang percaya diri, stigma, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.

Pada saat yang sama, keterbatasan ekonomi, minimnya informasi, jarak menuju fasilitas kesehatan, dan kekhawatiran terhadap tindakan operasi dapat menjadi hambatan untuk memperoleh penanganan.

Karena itu, menurut Tajrin, upaya menemukan dan mendampingi pasien perlu dilakukan secara aktif.

“Pasien harus dicari, ditemukan, diberikan informasi dengan baik, didampingi, dan dimobilisasi agar memperoleh kesempatan untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan,” ujarnya.

Masyarakat Diajak Bantu Temukan Pasien

RSUD Daya dan RSGM Unhas bersama FKG Unhas, Yayasan Celebes Cleft Center, dan Smile Train Indonesia mengajak berbagai pihak ikut membantu menemukan calon pasien.

Puskesmas, rumah sakit, dokter, dokter gigi, bidan, perawat, pemerintah kecamatan dan kelurahan, kader kesehatan, organisasi profesi, organisasi sosial, hingga masyarakat umum diharapkan turut menyebarluaskan informasi program tersebut.

Masyarakat yang mengetahui bayi, anak, remaja, maupun orang dewasa dengan celah bibir dan langit-langit yang belum mendapatkan penanganan dapat mengarahkan pasien dan keluarganya untuk mengikuti program ini.

Begitu pula pasien yang pernah menjalani operasi tetapi masih membutuhkan tindakan koreksi atau penanganan lanjutan.

“Jangan sampai keterbatasan ekonomi, rasa malu, stigma, kurangnya informasi, ataupun jauhnya akses pelayanan menyebabkan seseorang kehilangan kesempatan untuk memperoleh pengobatan,” tegas Tajrin.

Melalui program tersebut, operasi diharapkan tidak hanya membantu memperbaiki bentuk wajah, tetapi juga mendukung fungsi, komunikasi, interaksi sosial, dan kepercayaan diri pasien.

“Jangan biarkan pasien dengan celah bibir dan langit-langit bersembunyi karena rasa malu, keterbatasan ekonomi, atau kurangnya informasi. Mari kita temukan, kita dampingi, kita obati, dan kita kembalikan senyumnya,” pungkasnya. (*)

Jangan Lewatkan:

Bagikan: