Indonesia Siapkan Blueprint SDM Kesehatan 2026–2035 Berbasis Rekomendasi Konferensi AAAH

Tim Redaksi

Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Yuli Farianti
Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Yuli Farianti (Foto: Humas Kemenkes)

BALI – Konferensi ke-14 Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) resmi ditutup di Bali, Rabu (4/11/2026). Pertemuan yang diikuti delegasi dari 22 negara tersebut menegaskan pentingnya investasi sumber daya manusia (SDM) kesehatan sebagai fondasi transformasi dan penguatan sistem kesehatan di kawasan Asia Pasifik.

Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Yuli Farianti, mengatakan tantangan sektor kesehatan saat ini semakin kompleks. Mulai dari penuaan populasi, meningkatnya penyakit kronis, perubahan iklim, hingga ketimpangan distribusi tenaga medis membutuhkan penanganan konkret dan terintegrasi.

Di Indonesia, rasio dokter masih berada pada angka 0,62 per 1.000 penduduk. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan SDM kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah tenaga, tetapi juga peningkatan kompetensi, pemerataan distribusi, serta kepastian karier dan keamanan lingkungan kerja.

“Memperkuat SDM kesehatan bukan hanya soal menghasilkan lebih banyak tenaga kesehatan. Ini tentang kompetensi yang tepat, distribusi yang adil, serta lingkungan kerja yang membuat tenaga kesehatan merasa aman, dihargai, dan ingin bertahan. Semua ini terangkum dalam rumus: Kompetensi ditambah Komitmen menghasilkan Ketangguhan,” ujar Yuli di Bali, Rabu (4/11).

Tiga pilar penguatan SDM kesehatan

Dalam konferensi tersebut, para delegasi menyepakati tiga pilar utama penguatan SDM kesehatan, yakni tata kelola, pendidikan dan kesejahteraan, serta transformasi digital. Ketiganya dinilai perlu berjalan beriringan untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh.

Di Indonesia, implementasi pilar tata kelola dilakukan melalui penguatan perencanaan kebutuhan tenaga medis berbasis data hingga 2032. Langkah ini bertujuan memetakan kebutuhan tenaga kesehatan, terutama di wilayah terpencil, perbatasan, dan kepulauan.

Pada aspek pendidikan dan kesejahteraan, Kementerian Kesehatan mempercepat pemenuhan dokter spesialis melalui pendidikan berbasis rumah sakit (hospital-based). Skema tersebut memungkinkan peserta didik terlibat langsung dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Sementara itu, pada pilar transformasi digital, Kemenkes menyederhanakan proses administrasi melalui penerbitan Surat Tanda Registrasi (STR) seumur hidup menggunakan platform SATUSEHAT SDMK. Pemerintah juga menyediakan akses pelatihan daring bagi tenaga kesehatan melalui Plataran Sehat.

Melihat langsung praktik di fasilitas kesehatan Bali

Implementasi ketiga pilar tersebut turut diperlihatkan kepada delegasi melalui kunjungan lapangan ke tiga fasilitas kesehatan di Bali pada Senin (2/11/2026).

Rombongan pertama mengunjungi RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, rumah sakit rujukan kelas A yang menjadi tempat pendidikan bagi 1.442 residen dalam 24 program studi.

Rombongan kedua berkunjung ke Poltekkes Kemenkes Denpasar. Institusi pendidikan tersebut menerapkan standar global dalam simulasi pembelajaran, serta telah mengirimkan puluhan mahasiswa untuk mengikuti program magang dan lulusannya untuk bekerja di Jepang.

Adapun rombongan ketiga mengunjungi Puskesmas Kuta II untuk melihat penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP) berbasis siklus hidup.

Dalam pelayanan penyakit kronis, fasilitas kesehatan tersebut dilaporkan berhasil mengendalikan 81 persen pasien hipertensi dan 79 persen pasien diabetes. Puskesmas Kuta II juga mencatat capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebesar 101,6 persen atau menjangkau 5.708 orang.

Capaian pelayanan tersebut turut didukung oleh kedekatan personal antara tenaga kesehatan dan masyarakat setempat.

Perkuat solidaritas negara-negara Asia Pasifik

Selain membahas agenda strategis, konferensi ini juga memperkuat kolaborasi dan solidaritas antarnegara anggota. Nilai kebersamaan tersebut tercermin melalui pengenalan filosofi lokal Bali, Menyama Braya, yang mengajarkan pentingnya memperlakukan sesama sebagai saudara.

Yuli Farianti mengatakan, para delegasi dari 22 negara yang hadir di Bali diharapkan kembali ke negara masing-masing dengan semangat kebersamaan dalam menjalankan misi memperkuat SDM kesehatan.

Ia menggambarkan para peserta sebagai satu keluarga besar yang dipersatukan oleh misi untuk merawat mereka yang merawat orang lain.

Sementara itu, Ketua AAAH periode 2024–2026 yang juga Sekretaris Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Anna Kurniati, mengapresiasi dukungan dan solidaritas negara-negara anggota serta kontribusi mitra pembangunan internasional.

Sejumlah mitra yang turut berkontribusi antara lain WHO, JICA, KOICA, ADB, UNFPA, dan IHPP Foundation.

Anna menegaskan, AAAH merupakan aliansi strategis untuk memperkuat aksi kolektif negara-negara anggota. Menurutnya, tantangan pengelolaan SDM kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh satu negara secara mandiri.

Seluruh rekomendasi Konferensi AAAH ke-14 selanjutnya akan menjadi rujukan strategis bagi Indonesia dalam penyusunan Blueprint Pengelolaan SDM Kesehatan 2026–2035.

Penutupan konferensi di Bali sekaligus menandai penyerahan tongkat estafet penyelenggaraan konferensi berikutnya kepada Thailand. (*)

Jangan Lewatkan:

Bagikan: