Stunting Turun Signifikan dalam 10 Tahun, Target 14 Persen Dikejar Tahun 2029

Tim Redaksi

Prevalensi Stunting Indonesia Turun di Bawah 20 Persen

Jakarta, sehatnews — Pemerintah mencatat capaian bersejarah dalam upaya menurunkan angka stunting nasional.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia pada 2024 berhasil turun menjadi 19,8 persen, untuk pertama kalinya berada di bawah ambang 20 persen.

“Hari ini kita baru saja menyelenggarakan Rakornas dalam rangka penurunan prevalensi stunting. Alhamdulillah, pada tahun 2024 prevalensinya sudah turun menjadi 19,8 persen. Angka ini turun signifikan dalam 10 tahun terakhir, tetapi target kita harus turun jauh lebih rendah lagi,” kata Menkes Budi dalam Rapat Koordinasi Nasional Stunting di Gedung Kemenkes, Jakarta, Rabu (12/11).

Budi menegaskan bahwa penanganan stunting adalah kerja bersama lintas sektor dan tidak dapat dilakukan oleh satu kementerian saja.

Ia menyebut keberhasilan penurunan prevalensi hingga 2024 merupakan hasil sinergi kementerian/lembaga di pusat, pemerintah daerah hingga tingkat desa, serta dukungan organisasi masyarakat dan relawan Posyandu.

“Semua harus bergerak bersama, dari pusat sampai desa,” ujarnya.

Menkes Budi menjelaskan dua intervensi kunci yang paling menentukan dalam sektor kesehatan: memastikan ibu hamil memiliki gizi cukup dan bebas anemia, serta memenuhi kebutuhan protein hewani bagi balita usia 12–24 bulan, periode yang paling rentan terhadap peningkatan stunting.

“Masalahnya ada di ibunya. Jangan sampai ibu kurang gizi atau anemia. Setelah itu, anak-anak harus mendapat makanan tambahan dengan protein hewani yang cukup,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji menyoroti pentingnya akurasi data dan kedisiplinan pelaksanaan program agar intervensi berjalan tepat sasaran.

“Semoga Rakornas ini bisa menghasilkan rekomendasi percepatan penurunan stunting,” kata Wihaji.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menambahkan bahwa peran kepala daerah merupakan faktor penentu keberhasilan di lapangan.

“Kepala daerah yang lincah berkolaborasi dari preventif sampai kuratif adalah yang mampu menurunkan angka stunting. Kolaborasi dengan semua pihak harus terus diperkuat agar target 14 persen pada 2029 bisa tercapai,” ujarnya. (*)

Jangan Lewatkan:

Bagikan: