Mengelola Cemas di Era Modern, dr. Andi Batari Desiani: “Jangan Dilawan, Tapi Dipahami”

Tim Redaksi

dr Andi Batari Desiani
dr Andi Batari Desiani (Foto: IST)

Makassar, sehatnews – Di tengah tekanan hidup modern yang semakin kompleks, keluhan kecemasan kini menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang paling sering dialami masyarakat.

Mulai dari tuntutan pekerjaan, persoalan keluarga, hingga paparan media sosial, semua berkontribusi pada meningkatnya rasa cemas yang kerap sulit dikendalikan.

Dokter umum yang juga memiliki perhatian pada isu kesehatan mental, dr. Andi Batari Desiani, menilai bahwa banyak orang masih salah memahami kecemasan. Padahal, menurutnya, rasa cemas tidak selalu buruk.

“Cemas itu sebenarnya respon alami tubuh. Itu bagian dari mekanisme bertahan hidup atau fight or flight. Jadi, bukan sesuatu yang harus dihilangkan sepenuhnya,” jelasnya dalam wawancara dengan sehatnews di Makassar, Minggu (19/04/2026).

Namun, ia menegaskan, kecemasan perlu diwaspadai ketika mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

“Kalau sudah terjadi terus-menerus, tidak proporsional dengan situasi, dan mengganggu aktivitas, itu tanda bahwa kecemasan sudah perlu ditangani,” tambahnya.

Dipicu Banyak Faktor

Lebih lanjut, dr. Tari, sapaan karib Andi Batari Desiani, menjelaskan bahwa kecemasan berlebihan tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor yang saling berinteraksi.

Menurutnya, salah satu pemicu paling umum adalah overthinking, yaitu kecenderungan memikirkan sesuatu secara berulang tanpa solusi.

Selain itu, pengalaman masa lalu yang belum selesai diproses juga bisa menjadi sumber kecemasan.

“Trauma atau pengalaman buruk yang belum selesai itu sering muncul kembali dalam bentuk kecemasan,” ujarnya.

Ia juga menyinggung faktor lain seperti perfeksionisme, rasa tidak memiliki kontrol terhadap situasi, hingga faktor biologis seperti ketidakseimbangan hormon dan sistem saraf.

Gejala Tak Hanya di Pikiran, Tapi Juga Fisik

Kecemasan, kata dr. Tari, tidak hanya dirasakan secara mental, tetapi juga berdampak secara fisik.

Beberapa gejala yang umum dialami antara lain jantung berdebar, sesak napas, otot tegang atau pusing.

Sementara secara emosional, penderita biasanya merasa gelisah, mudah tersinggung, dan diliputi rasa takut tanpa sebab yang jelas.

“Sering kali orang tidak sadar bahwa keluhan fisik yang mereka alami sebenarnya berkaitan dengan kecemasan,” jelasnya.

Bisa Ganggu Kualitas Hidup

Dokter Tari mengingatkan bahwa kecemasan yang tidak ditangani dapat berdampak luas, mulai dari gangguan tidur hingga menurunnya kualitas hidup.

“Bisa menyebabkan insomnia, burnout, bahkan gangguan pencernaan. Hubungan sosial juga bisa terganggu,” katanya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya mengenali dan mengelola kecemasan sejak dini.

Diterima, Bukan Dilawan

Dalam praktiknya, dr. Tari menyarankan pendekatan yang sederhana namun efektif. Salah satunya adalah dengan menerima keberadaan kecemasan, bukan melawannya.

“Semakin kita melawan, biasanya justru semakin kuat. Jadi, langkah pertama adalah menyadari dan menerima,” ujarnya.

Ia juga mendorong masyarakat untuk belajar fokus pada saat ini (present moment) serta membatasi overthinking dengan menguji pikiran yang muncul.

“Coba tanya ke diri sendiri, ini fakta atau hanya pikiran saya saja?” katanya.

Selain itu, menjaga rutinitas harian dan melakukan aktivitas fisik juga dinilai sangat membantu dalam menurunkan tingkat stres.

Teknik Relaksasi Bisa Jadi Solusi Praktis

Untuk membantu meredakan kecemasan, dr. Tari merekomendasikan beberapa teknik relaksasi yang mudah dilakukan, seperti latihan pernapasan dalam (deep breathing), teknik grounding 5-4-3-2-1, meditasi atau relaksasi otot.

Menurutnya, teknik-teknik ini efektif membantu tubuh kembali tenang saat kecemasan memuncak.

Salah satu kunci utama dalam mengatasi kecemasan adalah kemampuan mengelola pikiran negatif.

“Pikiran itu belum tentu fakta. Kita perlu belajar menantangnya,” jelas dr. Tari.

Ia menyarankan latihan sederhana seperti menuliskan pikiran negatif, kemudian menggantinya dengan sudut pandang yang lebih realistis.

Gaya Hidup Sangat Berpengaruh

Tak kalah penting, dr. Tari juga menekankan peran gaya hidup dalam kesehatan mental.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain tidur cukup, mengurangi konsumsi kafein, menjaga pola makan sehat dan membatasi penggunaan media sosial.

“Gaya hidup sangat memengaruhi kondisi mental kita. Hal-hal sederhana sering kali punya dampak besar,” katanya.

Cari Bantuan Profesional

Di akhir wawancara, dr. Tari mengingatkan masyarakat agar tidak ragu mencari bantuan profesional jika kecemasan sudah tidak terkendali.

“Kalau sudah mengganggu aktivitas, muncul panic attack, atau bahkan ada pikiran menyakiti diri, itu harus segera ditangani,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bukanlah tanda kelemahan.

“Itu justru bentuk keberanian untuk menjaga diri sendiri,” pungkasnya.

Dengan pemahaman yang tepat dan langkah yang konsisten, dr. Tari optimistis bahwa setiap orang dapat belajar mengelola kecemasan dengan lebih baik.

“Kecemasan itu bagian dari hidup, tapi bukan berarti harus mengendalikan hidup kita,” tutup alumnus Fakultas Kedokteran UMI Makassar ini. (*)

Jangan Lewatkan:

Bagikan: